ASTRAEA LAW FIRM
Advocating Justice. Protecting Rights. Delivering Trust.
Oleh: I Ketut Sukiasa
Legal Consultant โ Foreign Investment & Business in Bali
Bagi investor asing yang ingin menjalankan bisnis di Indonesia, khususnya di Bali, salah satu keputusan awal yang sering terlihat sederhana tetapi sebenarnya mempunyai konsekuensi hukum yang sangat luas adalah pemilihan KBLI atau Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia.
Banyak investor mengenal KBLI hanya sebagai kode yang harus dimasukkan ketika mendirikan perusahaan atau memproses perizinan melalui OSS.
Pandangan tersebut terlalu sederhana.
KBLI mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha perusahaan, keterbukaan investasi asing, struktur PT PMA, tingkat risiko, perizinan, persyaratan sektoral, tata ruang, penggunaan bangunan, perpajakan, ketenagakerjaan, hingga pengawasan pemerintah.
Karena itu, kesalahan memilih KBLI bukan hanya kesalahan administratif.
Kesalahan tersebut dapat berkembang menjadi persoalan hukum dan bisnis yang jauh lebih besar.
Prinsip yang harus dipahami sejak awal adalah:
THE KBLI MUST FOLLOW THE REAL BUSINESS.
Bukan bisnis yang dipaksakan mengikuti KBLI yang dianggap paling mudah.
Secara sederhana, KBLI dapat dipahami sebagai identitas kegiatan ekonomi perusahaan di dalam sistem administrasi pemerintah.
Melalui KBLI, pemerintah dapat mengetahui kegiatan apa yang sebenarnya dijalankan suatu perusahaan dan selanjutnya menentukan persyaratan yang harus dipenuhi.
Hubungannya dapat digambarkan:
KEGIATAN USAHA AKTUAL
โ
KBLI
โ
KETERBUKAAN PMA
โ
TINGKAT RISIKO
โ
PERIZINAN
โ
OPERASIONAL
โ
PENGAWASAN & COMPLIANCE
Karena itu, keputusan mengenai KBLI harus dibuat berdasarkan analisis terhadap bisnis sebenarnya, bukan sekadar kesamaan nama.
Sebuah perusahaan dapat menggunakan nama yang terdengar seperti perusahaan konsultasi, hospitality, wellness, property management, atau tourism.
Namun nama tersebut tidak otomatis menentukan KBLI.
Misalnya sebuah perusahaan bernama:
โBali Wellness Management.โ
Pertanyaan hukumnya bukan sekadar:
โApakah namanya mengandung kata wellness atau management?โ
Yang perlu dianalisis adalah:
Apakah perusahaan memberikan konsultasi?
Apakah mengoperasikan spa?
Apakah menyediakan layanan olahraga?
Apakah melakukan kegiatan kesehatan?
Apakah mengelola villa?
Apakah menerima pembayaran tamu?
Apakah menyewakan properti?
Apakah menjalankan restoran?
Apakah menyediakan beberapa layanan sekaligus?
Inilah prinsip substance over label.
Yang menentukan KBLI adalah substansi kegiatan usaha, bukan label atau nama perusahaan.
Sebelum menentukan KBLI, investor sebaiknya menjelaskan bisnisnya secara nyata.
Beberapa pertanyaan mendasar perlu dijawab.
Apa yang dijual?
Barang atau jasa?
Siapa yang membayar?
Wisatawan, perusahaan, penyewa, pemilik properti, anggota gym, pasien, pelanggan restoran, atau pihak lainnya?
Mengapa perusahaan menerima pembayaran?
Apakah berupa:
management fee;
komisi;
sewa;
penjualan produk;
tarif kamar;
membership;
jasa profesional;
subscription;
atau bentuk pendapatan lainnya?
Di mana kegiatan dilakukan?
Apakah di kantor, villa, hotel, restoran, studio olahraga, klinik, kawasan wisata, atau secara digital?
Dari jawaban tersebut barulah kegiatan utama dan kegiatan penunjang dapat diidentifikasi.
Satu perusahaan dapat menjalankan lebih dari satu kegiatan usaha sepanjang secara hukum memungkinkan dan seluruh persyaratannya dipenuhi.
Namun investor perlu membedakan antara:
MAIN BUSINESS ACTIVITY
dan
SUPPORTING BUSINESS ACTIVITY.
Contohnya, suatu proyek hospitality mungkin mempunyai kegiatan utama pengoperasian akomodasi.
Tetapi di dalam proyek yang sama terdapat:
restoran;
spa;
fasilitas olahraga;
laundry;
event;
retail;
transportation;
atau kegiatan lainnya.
Jangan langsung beranggapan seluruh aktivitas tersebut otomatis tercakup dalam satu KBLI.
Setiap kegiatan perlu dianalisis untuk menentukan apakah diperlukan KBLI, izin, standar, atau PB-UMKU tambahan.
Salah satu kesalahan yang cukup sering ditemukan adalah perusahaan memiliki satu KBLI, tetapi dalam praktik menjalankan banyak kegiatan berbeda.
Misalnya izin mencerminkan kegiatan A, sedangkan kegiatan sebenarnya adalah:
A + B + C + D.
Jika B, C, dan D secara hukum merupakan kegiatan usaha tersendiri, maka harus diperiksa legalitas masing-masing.
Karena itu:
One company does not necessarily mean one KBLI.
Tetapi memiliki banyak KBLI juga bukan berarti seluruh kegiatan boleh dimasukkan begitu saja.
Setiap kegiatan harus mempunyai dasar bisnis yang nyata dan memenuhi ketentuan investasi serta perizinan yang relevan.
Pemilihan KBLI menjadi lebih penting bagi investor asing karena tidak seluruh bidang usaha mempunyai perlakuan yang sama terhadap modal asing.
Sebelum menentukan struktur kepemilikan PT PMA, investor perlu mengetahui:
apakah kegiatan tersebut terbuka bagi PMA;
apakah terdapat batas kepemilikan asing;
apakah terdapat persyaratan khusus;
apakah kegiatan memerlukan izin sektoral tertentu;
apakah terdapat pembatasan lokasi;
serta bagaimana ketentuan investasi yang berlaku.
Karena itu, urutannya jangan dibalik.
Bukan:
DIRIKAN PT PMA โ TENTUKAN SAHAM โ CARI KBLI
tetapi:
TENTUKAN BISNIS โ TENTUKAN KBLI โ PERIKSA PMA โ SUSUN STRUKTUR PERUSAHAAN.
Kesalahan pada tahap ini dapat membuat perusahaan telah berdiri, modal telah masuk, tetapi struktur saham ternyata tidak sesuai dengan kegiatan yang sebenarnya ingin dilakukan.
Dalam sistem Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, KBLI mempunyai hubungan langsung dengan klasifikasi risiko.
Secara umum:
KBLI
โ
RISK LEVEL
โ
NIB / SERTIFIKAT STANDAR / IZIN
โ
PB-UMKU / PERSYARATAN SEKTORAL
โ
PENGAWASAN
Karena itu, kesalahan menentukan KBLI juga dapat menyebabkan kesalahan memahami jenis legalitas yang harus dipenuhi.
Investor tidak boleh memilih KBLI hanya karena tingkat risikonya dianggap lebih rendah.
Tingkat risiko harus mengikuti kegiatan aktual.
Prinsipnya:
Choose the correct KBLI, not the easiest KBLI.
Ini juga perlu ditegaskan.
Memasukkan suatu KBLI ke dalam OSS tidak otomatis berarti perusahaan telah memiliki seluruh izin untuk menjalankan kegiatan tersebut.
KBLI merupakan klasifikasi.
Sedangkan legalitas operasional dapat membutuhkan:
NIB;
Sertifikat Standar;
Izin;
PB-UMKU;
persyaratan dasar;
persetujuan lingkungan;
persyaratan bangunan;
izin atau standar sektoral;
dan kewajiban lain.
Karena itu:
KBLI adalah salah satu fondasi untuk menentukan legalitas yang dibutuhkan.
Hal ini sangat penting dalam investasi di Bali.
Investor dapat memiliki PT PMA.
Investor dapat mempunyai KBLI.
Investor dapat memperoleh NIB.
Tetapi semua itu tidak otomatis berarti sebidang tanah dapat digunakan untuk kegiatan yang direncanakan.
Contohnya, investor memiliki tanah dan memilih KBLI untuk kegiatan akomodasi.
Pertanyaannya tetap:
Apakah tanah tersebut secara tata ruang memang dapat digunakan untuk akomodasi?
Karena itu struktur pemeriksaannya harus:
LOKASI
โ
TATA RUANG
โ
PERUNTUKAN
โ
KBLI / KEGIATAN
โ
BANGUNAN
โ
PERIZINAN
โ
OPERASIONAL
KBLI tidak dapat mengubah tanah yang tidak sesuai menjadi sesuai.
Dalam sebuah investasi yang sehat, seluruh dokumen seharusnya konsisten.
Misalnya:
Tanah sesuai untuk kegiatan.
Tata ruang mengizinkan kegiatan.
Bangunan diperbolehkan untuk fungsi tersebut.
KBLI menggambarkan kegiatan aktual.
Perizinan sesuai dengan tingkat risiko.
Kontrak mencerminkan kegiatan perusahaan.
Operasional benar-benar sesuai dengan semua dokumen tersebut.
Idealnya:
Jika salah satu berbeda, diperlukan pemeriksaan.
Investor asing ingin membangun dan mengoperasikan villa di Bali.
Pertanyaannya bukan hanya:
โKBLI villa yang mana?โ
Analisisnya harus lebih luas.
Siapa investornya dan bagaimana struktur PT PMA?
Apakah perusahaan membangun, memiliki hak pemanfaatan, menyewakan, mengelola, atau mengoperasikan akomodasi?
Apa klasifikasi yang benar berdasarkan kegiatan sebenarnya?
Apakah struktur PMA diperbolehkan?
Apa status hak atas tanah?
Apakah lokasi diperbolehkan untuk akomodasi?
Apakah bangunan dan fungsi bangunan memenuhi persyaratan?
Apa persyaratan lingkungannya?
Apa standar/perizinan sektor pariwisatanya?
Bagaimana pendapatan dan kewajiban pajaknya?
Siapa yang menerima pembayaran tamu dan mengoperasikan properti?
Semua ini harus diperiksa bersama.
Seorang investor berkata:
โSaya ingin membuka restoran.โ
Kedengarannya sederhana.
Tetapi kemudian perlu diketahui:
Apakah hanya menjual makanan?
Apakah menjual minuman beralkohol?
Apakah menyediakan katering?
Apakah terdapat live entertainment?
Apakah menjalankan event?
Apakah menyediakan delivery?
Apakah bagian dari hotel?
Apakah menjual produk retail?
Setiap kegiatan tambahan dapat memiliki implikasi perizinan yang berbeda.
Karena itu jangan berhenti pada kata โrestaurant.โ
Analisislah kegiatan yang sebenarnya.
Bidang olahraga dan wellness merupakan contoh lain yang sering membutuhkan kehati-hatian.
Gym dapat mempunyai kegiatan olahraga.
Namun apabila di dalam fasilitas yang sama kemudian disediakan:
fisioterapi;
medical treatment;
diagnosis;
layanan kesehatan;
terapi tertentu;
atau kegiatan profesional lainnya,
maka tidak tepat apabila seluruh layanan tersebut dianggap otomatis berada di bawah satu KBLI olahraga.
Setiap aktivitas harus dianalisis menurut substansi dan regulasi sektoralnya.
Contoh yang sangat relevan di Bali adalah perusahaan yang menggunakan konsep property management.
Dalam praktiknya perusahaan mungkin:
menerima booking;
memasarkan villa;
mengelola staf;
mengatur housekeeping;
mengatur maintenance;
menerima pembayaran tamu;
menentukan harga kamar;
mengelola reservasi;
dan menjalankan operasional harian.
Maka pertanyaannya:
Apakah perusahaan hanya memberikan jasa manajemen, atau sebenarnya telah menjalankan kegiatan operasional akomodasi?
Nama kontrak tidak menentukan substansinya.
Nama perusahaan juga tidak menentukan substansinya.
Yang diperiksa adalah kegiatan sebenarnya.
Ketika perusahaan masih beroperasi sehari-hari, ketidaksesuaian terkadang tidak langsung terasa.
Masalah sering muncul ketika terjadi:
sale of shares, merger, acquisition, refinancing, bank financing, investor entry, atau legal due diligence.
Calon investor akan memeriksa:
AKTA
โ
ANGGARAN DASAR
โ
KBLI
โ
NIB
โ
PERIZINAN
โ
KONTRAK
โ
AKTIVITAS AKTUAL
Kemudian muncul pertanyaan:
โApakah perusahaan ini sebenarnya mempunyai legalitas untuk menghasilkan pendapatan dari kegiatan yang selama ini dilakukannya?โ
Pertanyaan tersebut dapat memengaruhi valuasi perusahaan.
Jadi pemilihan KBLI juga merupakan bagian dari:
Ini merupakan kondisi yang harus dihindari.
Misalnya:
Kontrak perusahaan mengatakan perusahaan menyediakan jasa A.
KBLI menunjukkan kegiatan B.
Izin berkaitan dengan B.
Tetapi pendapatan utama berasal dari kegiatan C.
Kondisi seperti ini dapat menimbulkan pertanyaan dalam pemeriksaan hukum, pajak, audit maupun transaksi investasi.
Struktur yang jauh lebih sehat adalah:
Semakin konsisten seluruh dokumen dengan realitas bisnis, semakin kuat posisi perusahaan.
Bisnis berkembang.
Model pendapatan berubah.
Perusahaan membuka lokasi baru.
Produk baru diluncurkan.
Perusahaan yang tadinya hanya mengelola properti mulai mengoperasikan restoran.
Gym menambahkan wellness.
Villa menambahkan event space.
Perusahaan konsultasi mulai menjual produk.
Setiap perubahan bisnis perlu diikuti dengan pertanyaan:
Apakah struktur legal kita masih sesuai?
Prinsipnya:
KBLI bukan sesuatu yang dipilih sekali kemudian dilupakan selamanya.
Sebelum mengeluarkan modal besar, gunakan urutan:
BUSINESS
โ
KBLI
โ
FOREIGN INVESTMENT ELIGIBILITY
โ
RISK LEVEL
โ
LOCATION & SPATIAL PLANNING
โ
LICENSE
โ
OPERATION
โ
CONTINUOUS COMPLIANCE
Jangan menggunakan pola:
BUY LAND
โ
BUILD
โ
FORM COMPANY
โ
FIND A KBLI
โ
TRY TO GET LICENSES
Karena ketika struktur hukum ditentukan terakhir, investor mungkin sudah mengeluarkan modal terlalu besar untuk memperbaiki kesalahan.
Saya menyarankan investor menggunakan tiga ukuran sederhana.
KBLI harus benar-benar sesuai dengan kegiatan perusahaan.
Jangan hanya memeriksa kegiatan utama. Periksa juga kegiatan lain yang menghasilkan pendapatan atau mempunyai persyaratan tersendiri.
Setelah KBLI dipilih, seluruh izin, lokasi, standar, tenaga kerja dan operasional harus mengikuti struktur tersebut.
Dengan demikian:
KBLI bukan sekadar kode administrasi. KBLI merupakan bagian dari fondasi legalitas perusahaan.
Bagi investor asing, godaan terbesar terkadang adalah mencari struktur yang tercepat dan termudah.
Tetapi investasi seharusnya dibangun untuk bertahan bertahun-tahun, bukan sekadar untuk melewati proses OSS hari ini.
Karena itu pertanyaannya jangan:
โKBLI mana yang paling mudah?โ
Tetapi:
โKBLI mana yang secara hukum paling tepat untuk bisnis yang benar-benar akan kami jalankan?โ
Perbedaan kedua pertanyaan tersebut sangat besar.
Pertanyaan pertama berorientasi pada kemudahan hari ini.
Pertanyaan kedua berorientasi pada keamanan investasi jangka panjang.
Pemilihan KBLI merupakan salah satu bagian paling penting dalam perencanaan investasi.
Kesalahan kecil pada awal struktur dapat berkembang menjadi persoalan:
KBLI
โ
PERIZINAN
โ
TATA RUANG
โ
BANGUNAN
โ
OPERASIONAL
โ
PAJAK
โ
TENAGA KERJA
โ
DUE DILIGENCE
โ
INVESTMENT DISPUTE
Sebaliknya, KBLI yang disusun berdasarkan kegiatan bisnis yang benar memberikan fondasi yang jauh lebih sehat untuk:
PT PMA โ OSS โ LICENSE โ OPERATION โ COMPLIANCE โ GROWTH โ EXIT.
Karena itu prinsip utama yang harus selalu diingat adalah:
Dan prinsip yang lebih mendasar:
Jangan menyesuaikan kegiatan usaha dengan izin yang paling mudah diperoleh.
Bangunlah struktur hukum dan perizinan berdasarkan bisnis yang benar-benar akan dijalankan.
Karena dalam investasi asing, legalitas bukan hanya persyaratan untuk memulai.
Legalitas adalah bagian dari perlindungan terhadap nilai investasi itu sendiri.
ASTRAEA LAW FIRM
Foreign Investment โข Corporate โข Business Licensing โข Property โข Legal Due Diligence โข Compliance
Advocating Justice. Protecting Rights. Delivering Trust.
Br. Jagatamu, Meliling, Kec. Kerambitan, Kab. Tabanan, Bali
+62 812-3730-7574
Senin - Jumat: 08.00 - 17.00 WIB
Sabtu: 08.00 - 12.00 WIB